BELAJAR SAMA AA FATHAN (EDISI PEMBAHASAN ICT)
KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatnya
penulis bisa menyelesaikan makalah ini.
Judul
makalah ini adalah Resume
Seminar “ICT: Dinamika dan Problematika dalam Identitas Bangsa dan karya makalah ini merupakan tugas yang diberikan untuk melengkapi
tugas tengah
semester ganjil tahun akademik 2011/2012.
Penulis
mengakui bahwa dalam penyusunan karya tulis ini penulis banyak mengalami
hambatan, namun berkat dorongan dan bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak
maka tersusunlah makalah ini.
Pada
penulisan makalah ini penulis sadar masih terdapat banyak kekurangan dan
kesalahan oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran.
Pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu, membimbing, dan mengarahkan penulis demi tersusunnya makalah
ini.
Semoga
makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian.
Jakarta, November
2011
PENULIS
PENDAHULUAN
·
Latar
Belakang
Dari zaman ke zaman
perkembangan teknologi dan media
komunikasi semakin pesat hal ini ditandai dengan banyak ditemukan dan
dikeluarkannya teknologi terbaru, bahkan di Amerika setiap 30 menitnya
ditemukan pembaruan terhadap teknologi yang ditujukan untuk memudahkan manusia
dalam menjalani berbagai aktivitasnya . akan tetapi pesatnya perkembangan
teknologi dan media komunikasi terhadap
hal negative yaitu modernisasi dan globalisasi. Dengan demikian kaitannya
dengan modernisasi para pemuda justru akan malas untuk mengerjakan segala
sesuatunya karena sudah didukung peralatan yang canggih sehingga mengurangi
interaksi antarpemuda dan pemuda akan mudah terseret arus globalisasi di era
information and communication technology (ICT)
Melihat
besarnya dampak dari ICT terhadap nasionalisme dan dalam identitas
bangsa muncul keinginan penulis untuk menganalisis lebih dalam mengenai
pengaruh perkembangan teknologi media informasi dan komunikasi
·
Rumusan
Masalah
-
Nono Kuswara : Tantangan media televisi
dalam menyongsong era digital sebagai
prospek masa depan penyiaran Indonesia
-
Rahmad Fernando : Memanfaatkan ICT
sebagai pembangun bangsa
-
Budiarto Shambazy : Sulit mengkaitkan
ICT dengan nasionalisme
-
Heru
Tjatur : ICT dapat menyalurkan ide-ide atau aspirasi
-
Iman Brotoseno : Solidaritas kebangsaan
dalam sosial media.
-
Eddy Kurnia : ICT vs Nasionalisme
PEMBAHASAN
Seminar
“ICT: Dinamika dan Problematika dalam Identitas Bangsa” telah diselenggarakan
oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Budi
Luhur Jakarta dalam rangkaian acara Communication Days 6th Annual pada tanggal
26 Oktober 2011 di Gedung Auditorium Universitas Budi Luhur.
Dalam
seminar ini menghadirkan para pembicara yang ahli di bidangnya masing-masing,
yaitu Rahmad Fernando dari Kemenpora, Nono Kuswara yang seorang Produser
Program Acara Trans7, Budiarto Shambazzy Wartawan Senior Kompas, Heru Tjatur
ICT Watch, Iman Brotoseno seorang Aktivis Media Sosial, dan Eddy Kurnia seorang
Head of Corporate Communication & Affair PT. Telkom, Tbk.
Seminar
ini diadakan atas dasar pengaruh Information
and Communication Technology (ICT) dalam identitas bangsa
sehingga dapat mengetahui lebih jauh pengaruh perkembangan teknologi media
informasi dan komunikasi terhadap nasionalisme pemuda Indonesia dalam pemikiran
aktif mahasiswa dimana pemuda sebagai generasi penerus bangsa yang mudah
terbawa arus globalisasi dan modernisasi.
Pada
kesempatan pertama yang menjadi pembicara adalah Rahmad Fernando dari
kemenegpora yang membahas identitas bangsa merupakan cirri-ciri atau keadaan
khusus suatu bangsa (jati diri bangsa). Dimana
bangsa adalah suatu
kelompok manusia yang dianggap
memiliki identitas bersama.
Umumnya
masyarakat Indonesia dianggap memiliki keturunan yang sama. Konsep bahwa semua
manusia dibagi menjadi kelompok-kelompok
bangsa ini merupakan salah satu doktrin (doktrin etika dan filsafat) paling
berpengaruh dalam sejarah. Doktrin ini merupakan doktrin etika dan filsafat,
dan merupakan awal dari ideologi nasionalisme. Pada seminar tersebut pembicara
membahas mengenai identitas Indonesia, identitas Indonesia adalah Pancasila,
dan Identitas warga negara Indonesia adalah ramah, murah senyum, semangat, tolong
menolong, dan jujur. Kejujuran merupakan salah satu identitas warga negara
Indonesia, kita bisa memanfaatkan ICT dalam memasyarakatkan kejujuran misalnya
seperti adanya program “lost and found” ketika adanya kehilangan sehingga dapat
melatih kita dalam menjadi pribadi yang jujur. Kita dapat menggunkan ICT
sebagai pembangun bangsa.
Pada
kesempatan selanjutnya dengan pembicara Nono Kuswara membahas mengenai media
televisi dalam menghadapi era digital sebagai
rencana ke depan penyiaran Indonesia. Pada tahun 1962 siaran perdana televisi,
dan terus berkembang hingga saat ini. Televisi yang menggunakan modulasi digital dan
sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat
televisi. Digital TV merupakan alat yg
digunakan untuk menangkap siaran TV digital, perkembangan dari sistem siaran
analog ke digital yang mengubah informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit
data seperti komputer. Perbedaan yang mendasar antara TV Digital dan TV Analog
hanyalah pada transmisi pancarannya. Kebanyakan TV di Indonesia, masih
menggunakan sistim analog dengan menggunakan cara memodulasikannya langsung
pada frekuensi carrier. Sedangkan pada sistem digital , data gambar atau
suara dikodekan dalam mode digital (diskret), setelah itu dipancarkan. Pada seminar tersebut pembicara member contoh cara mudah membedakan antara TV digital dengan TV analog, yaitu jika TV analog terdapat banyak gangguan seperti sinyalnya lemah misalnya terjadi masalah pada antena maka gambar yang diterima akan banyak “semut”, sedangkan pada TV digital yang terjadi gambar yang lengket seperti pada
saat kita menonton VCD yang rusak. Untuk menerima siaran digital untuk TV yang analog tidaklah terlalu mahal. Receiver (komunikan) hanya tinggal memasang antena dan kemudian AV nya dikoneksikan ke TV.
Sedangkan
menurut Budiarto Shambazy dari kompas mengenai perkembangan ICT, media sosial
sudah mengubah hidup kita semua, kesempatan teknologi yang ada jauh lebih baik
dari pikiran manusia, sehingga menjadikan wartawan seperti memiliki pesaing
baru.. Antara ICT dengan nasionalisme belum bisa terkait dikarenakan masih
adanya pelanggaran dan dampak negative dalam ICT sehingga belum bisa dikatakan dapat
berkembang dengan baik. Penayangan melalui media massa televisi lebih
mengutamakan rating atau peringkat, rating paling tinggi acara TV di Indonesia
yaitu sinetron dan siaran bola. Sehingga sulit untuk mengkaitkan antara ICT dengan
nasionalisme.
Berdasarkan isi seminar yang diberikan oleh Heru
Tjatur dari ICT watch, dulu koneksi internet sangat lambat ditambah lagi harus
didukung perangkat untuk bisa mengakses internet, tetapi sekarang internet
sudah sangat melekat dalam kehidupan masyarakat terbukti dengan banyaknya
pengguna internet ditambah lagi kemudahan dalam mengaksesnya sehingga internet
bisa digunakan kapanpun dan dimanapun. Informasi yang diberikan melalui
internet bisa merubah peluang yang ada pada teknologi, sekarang kita sudah bisa
memilih sendiri informasi apa yang ingin kita ketahui dari yang diinformasikan
oleh media dan kita bisa memberikan ide-ide dan aspirasi yang tidak tersalurkan
oleh media. Untuk bisa dikatakan kita memiliki rasa nasionalisme dengan
menyalurkannya melalui media kita dapat membuat tulisan-tulisan/artikel
mengenai Indonesia, ICT merupakan salah satu teman dan dibutuhkan oleh semua
orang akan tetapi kita harus tetap berhati-hati dalam menggunakan ICT karena
pada ICT dapat membuka peluang adanya tindak kejahatan seperti penipuan dan
penculikan melalui jejaring sosial seperti sering diberitakan dalam media elektronik. Kita harus berpikir ulang sebelum
membuat tulisan melalui media blog dan tetap bijaksana pada saat sedang mengakses
media internet tersebut atau lainnya.
Selanjutnya
pembicara Iman Brotoseno yang merupakan aktivis media sosial dalam seminar
tersebut mengatakan “Indonesians are
exploring new online outlets, to have their voices heard”, evolusi di masa
depan akan berciri terbentuknya ekosistem yang menghadirkan dialog multi arah,
serta penguatan serta penguatan dialog masyarakat sipil. Dan para pengakses
internet memegang peranan penting sebagai bagian utama dari ekosistem itu untuk
membangun dialog yang sehat lewat masing masing media yang dimiliki Blogging
juga akan bertransformasi tidak sekadar berisi personal notes. Ia menjadi
personal branding pemiliknya, dimana isi blog tidak berdasarkan ide-ide
spontanitas tetapi berdasarkan pengalaman dan opini. Dengan kata lain, ngeblog akan memberikan
ruang lebih luas kepada ruang public, blog bukan sekadar ruang personal. Integrasi blog dengan
jejaring sosial lainnya serta kita harus tahu pola kebiasaan masyarakat
melakukan percakapan interaksi di dunia online, tersapat sekitar 80 juta
pengguna internet di Indonesia. “Sosmed
and blogs are connecting more people in Indonesia, enabling them to accomplish
good causes”. Semangat Sumpah Pemuda tidak melulu harus diartikan sebagai
simbol persatuan bangsa. Lebih jauh lagi, bisa sebagai simbol pembebasan dari
ketidakadilan, ketersia-siaan sekaligus simbol solidaritas. Apa yang akan kita katakan, jika kita
tidak bisa mengartikan sinyal-sinyal/symbol yang ada, bahasa kemanusiaan kita
sendiri. Tidak salah jika seseorang pernah mengatakan “Semakin kita terbuka
semakin mampu kita berkomunikasi, dan hal itu akan membuat dunia bersatu”.
Jaman bersatu, tidak lagi harus relevan dengan satu bangsa, satu tanah air dan
satu bahasa. Sumpah Pemuda memang selama ini dalam periode orde lama dan baru
dipakai sebagai justifikasi penciptaan simbol persatuan yang ujung ujungnya
justru “memberangus” kebinekaan, keragaman budaya dan latar belakang manusia
Indonesia. Kini jaman sudah berubah pada era Sumpah Pemuda digital .
Paradigma sudah bergeser menjadi satu solidaritas, tanpa melihat suku,
afiliasi, bangsa, gender bahkan agama melalui jejaring sosial.
Dan
dari isi seminar yang diberikan oleh Eddy Kurnia adalah globalisasi dan dunia
tanpa batas merupakan dua skenario yang besar. Nasionalisme merupakan satu
paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara.
Puranasionalis menganggap kebenaran politik, sedangkan primodialisme paham yang
memegang teguh duatu keyakinan yang ada. ICT menciptakan dunia tanpa batas dan
ICT akan membuat nasionalisme berubah. Dimana fakta-fakta yang ada pada
internet memiliki kemampuan dalam meniadakan batasan-batasan yang ada selama
ini. Dunia kerja di era digital bekerja secara kolaboratif, karakteristik
tenaga kerja era digital yaitu tidak segan dalam menjalankan pekerjaan, terus
belajar, serta selalu berinisiatif untuk belajar.
PENUTUP
·
KESIMPULAN
Dengan
berkembangnya teknologi komunikasi dengan sangat cepat kita sebagai pemuda jangan
sampai dimanfaatkan oleh teknologi justru seharusnya kita sebagai pengguna yang
memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang positif agar dapat menciptakan
pemuda yang bisa berfikir kritis, kreatif dan positif demi untuk memajukan
bangsa Indonesia kearah yang lebih baik
BELAJAR SAMA AA FATHAN (EDISI PEMBAHASAN ICT)
Reviewed by fatan
on
07.55
Rating:

Tidak ada komentar